NAMA : ERMAYANI DWI ASTUTI
NIM : E2A008045
KELAS : REGULER 1-2008
1. Apa dampak klorin pada tubuh ?
Jawab:
Klorin sangat potensial untuk terjadinya penyakit di kerongkongan, hidung dan trakt respiratory (saluran kerongkongan didekat paru-paru). Akibat-akibat akut untuk jangka pendek : Pengaruh 250 ppm selama 30 menit kemungkinan besar berakibat fatal bagi orang dewasa. Terjadi irritasi tinggi waktu gas itu dihirup dan dapat menyebabkan kulit dan mata terbakar. Jika berpadu dengan udara lembab, asam hydroklorik dan hypoklorus “dapat mengakibatkan peradangan jaringan tubuh yang terkena. Pengaruh 14 s/d 21 ppm selama 30 s/d 60 menit menyababkan penyakit pada paru- paru seperti pnumonitis, sesak nafas, emphisema dan bronkitis” (Waldbott, 1978). Akibat-akibat yang kronis/sublethal untuk jangka panjang : Untuk jangka panjang dari pengaruh gas klorine, ada kemungkinan “menjadi tua sebelum waktunya, menimbulkan masalah dengan cabang tenggorok, pengkaratan pada gigi dan besar kecenderungan munculnya penyakit paru-paru seperti tbc dan emphisema.” (Chlorine Institute, 1980).
Indikasi gangguan bila terkontaminasi klorin adalah 0,2 ppm: hidung terasa gatal; 1,0 ppm: krongkongan gatal atau rasa kering, batuk, susah nafas; 1,3 ppm (untuk 30 menit): sesak nafas berat dan kepala sangat pening; 5 ppm : peradangan hidung, pengkaratan gigi dan sesak nafas; 10,0 ppm: trakt respiratori menjadi sangat diganggu; 15-20 ppm: batuk lebih keras, terasa tercekik, sesak di dada; 30 ppm: berbahaya untuk kehidupan selanjutnya atau untuk sehat seperti batuk hebat, tercekik, sesak nafas dan muntah-muntah; 250 ppm: kemungkinan besar fatal (orang mati); 1000 ppm: pasti mati.
Zat klorin hanya bagus apabila digunakan sebagai pemutih. Penelitian membuktikan bahaya klorin yang dapat merusak vitamin B, C dan E dalam tubuh. Apabila bereaksi dengan asam dari tumbuhan yang membusuk akan terbentuk trihalomethans (THMs) yang bersifat karsinogen. Ini merupakan penyebab dari berbagai penyakit seperti lever, ginjal, pernapasan, tensi darah rendah dan cacat lahir. Juga menyebabkan pengendapan kolesterol dalam darah dan stroke.
2. Carilah data jumlah penduduk kota Semarang, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung,
Jawab :
1. Jakarta : . luasnya adalah sekitar 740 km²; dan penduduknya berjumlah 8.792.000
2. Surabaya : . luas wilayah kota surabaya adalah 374,36 km2, jumlah penduduk 3.282.156
3. Bandung : Luas Kota Bandung adalah 16.767 hektare, jumlah penduduk 2.771.138
4. Medan : Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar. Jumlah penduduk 2.036.018
5. Bekasi : Luas kota bekasi 210,49 Km2. Jumlah penduduk 1.940.308
6. Tangerang : Luas kota tanggerang 164.54 km2. Jumlah penduduk 1.488.666
7. Semarang : Luas kota semarang 225,17 km². jumlah penduduk 1.352.869
8. Depok : Luas kota Depok 200.29km2. jumlah penduduk 1.339.263
9. Palembang : Luas kota palembang 102.47km2. Jumlah penduduk 1.323.169
10. Makasar : Luas kota makassar 128,12 km². Jumalh penduduk 1.168.258
11. Yogyakarta: luas 32,5 km2 jumlah penduduk 435.236 jiwa
3. Sumber air utama di Surabaya
Jawab:
sumber utama berasal dari kali Surabaya. Kali Surabaya merupakan salah satu segmen dari Kali Brantas yang keberadaannya berhulu dari Dam Lengkong Mojokerto dan bermuara di Surabaya. Pada Daerah Pengaliran Sungai (DAS) terdapat sejumlah industri-industri berpotensi pencemaran berat baik berskala besar,menengah dan kecil. Sampai saat ini terdapat sejumlah + 42 industri yang telah dilakukan pemantauan secara periodik. Disamping itu pada Daerah Pengaliran Sungai (DAS) juga merupakan daerah terpadat pemukiman dibandingkan dengan segmen-segmen anak sungai Kali Brantas lainnya. Jumlah penduduk yang bermukim pada Daerah Pengaliran Sungai ini memberikan kontribusi buangan limbahnya pada Kali Surabaya sehingga beban pencemaran limbah domestik juga memiliki potensi besar.
Kualitas air sungai ditentukan oleh debit air dan debit limbah yang dibuang ke dalam badan air sungai tersebut. Jika badan air Kali Surabaya sudah ditetapkan sebagai badan air dengan kualitas air Golongan B yang memang layak sebagai air baku untuk produksi air minum, maka tindakan selanjutnya adalah mengendalikan kualitasnya dengan menetapkan berapa besar limbah yang boleh dibuang ke badan air sungai itu disesuaikan dengan debit air sungai yang ada. Jumlah limbahpun harus fluktuatif sesuai dengan fluktuasi debit air sungai itu sendiri, karena debit air sungai memang dinamik sesuai dengan musim yang terjadi.
Pada akhir-akhir ini masalah pencemaran air Kali Surabaya dikaitkan dengan limbah domestik penduduk yang tinggal disepanjang/ disekitar Kali Surabaya. Bahkan adanya pendapat bahwa kontribusi pencemaran Kali Surabaya (bukan Kali Mas atau Kali Wonokromo) saat sekarang lebih banyak disebabkan oleh limbah domestik dibanding dari pada limbah industri perlu dikaji lagi. Kesimpulan yang salah pasti akan membuat masalah pencemaran kali Surabaya tidak pernah terselesaikan bahkan bisa menjadi semakin serius dari waktu ke waktu yang tentunya menjadi semakin merugikan kepentingan rakyat banyak.
Dari analisis kualitas air Kali Surabaya sepanjang tahun diketahui bahwa beban pencemaran menjadi meningkat tajam di hulu IPAM PDAM Karangpilang setelah air sungai melewati banyak industri, setelah muara Kali Tengah di Driyorejo Gresik. Setelah komplek industri tersebut sering terjadi banyak ikan menggelepar
Air PDAM Kota Surabaya tidak layak konsumsi, karena mengandung kadar dioxide oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD), melebihi batas pencemaran air. PDAM menggunakan air Kali Surabaya sebagai sumber produksi. Padahal kali itu tercemar limbah rumah tangga (60 persen) dan limbah pabrik (40 persen). Saat ini ada sekitar 50 pelaku industri yang membuang limbahnya langsung ke Kali Surabaya dan 70 lainnya secara tidak langsung, tapi melalui kali-kali kecil, seperti Kali Tengah. Industri itu memanjang dari Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, hingga Surabaya.
4. Limbah industry apa sajakah yang limbahnya masuk kedalam aliran sungai PDAM di Surabaya, berapa beban limbahnya?
Jawab : PT Aneka Kimia Nusantara. PT Aneka Kimia Nusantara (AKN) Desa Wates Magersari Mojokerto, adalah industri penghasil etanol termasuk penyumbang terbesar pencemaran organik tinggi di Kali Surabaya, dapat dibayangkan untuk memproduksi satu liter etanol dihasilkan limbah 15 liter dari molase yang berwarna coklat, tergolong sebagai buangan paling korosif, BOD (Bio Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang tinggi, pH 3.5, suhu yang tinggi hingga mencapai 100 oC yang dapat mencemari air tanah. Sehingga limbah buangan pabrik etanol ini membutuhkan pengolahan tertentu sebelum dibuang ke badan air. Molase adalah sisa tetes dari tetes tebu yang telah diproses untuk menghasilkan gula pasir. Molase mengandung sekitar 45% sukrosa yang dapat difermentasikan menjadi alkohol. 1 kg sukrosa secara teoritis akan menghasilkan 0.644 liter alkohol absolut (anhidrida) yang hampir 100% murni. Secara matematis dengan 88% efisiensi fermentasi dan 98% distilasi akan dihasilkan 0.555 liter alkohol. di Surabaya dinyatakan dalam keadaan kritis, Kali Surabaya yang digunakan sebagai bahan baku air minum juga dimanfaatkan sebagai buangan air limbah industri dan domestik, limbah organik yang dibuang ke Kali Surabaya sebesar 33.477 kg/hari, 86% berasal dari sektor industri (28.752 kg/hari) sisanya 8 % berasal dari buangan domestik (2.597 kg/hari ) dan 6% dari anak sungai (2.128 kg/hari). Data diatas memperlihatkan besarnya kontribusi dunia industri terhadap pencemaran di Kali Surabaya, 94% dari sumber kontributor pencemaran organik dari sektor industri berasal dari pabrik-pabrik kertas.
http://www.ecoton.or.id
5. Apa bentuk gelombang pada pemancar atau BTS?
Jawab: Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah gelombang elektromagnetik berupa longitudinal. SUTET bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk di sekitarnya, yaitu berupa sekumpulan gejala hipersensivitas yang dikenal dengan electrical sensivity berupa keluhan sakit kepala, pening (dizziness), dan keluhan menahun (chronic fatigue syndrome)
Radiasi medan listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh SUTET bisa digolongkan sebagai radiasi non pengion. Istilah fisika radiasi non-pengion mengacu pada radiasi elektromagnetik dengan energi lebih dari 10 elektrovolt (ev) yang antara lain meliputi: sinar ultra violet, cahaya tampak, infra merah, gelombang micro, ultra sound dan radio frekwensi elektromagnetik.
6. Adakah keterkaitan antara penderita DBD dengan penggunaan pestisida?
Jawab : Ada hubungan antara pestisida dengan penyakit DBD. Pestisida pada nyamuk akan berbahaya karena bisa menimbulkan resistensi terhadap nyamuk “aedes aegypti”. Pestisida yang digunakan mempengaruhi kerentanan nyamuk sehingga masa hidupnya lebih panjang. Dalam hal ini nyamuk mudah sekali bermutasi sehingga semakin tinggi penggunaan pestisida di suatu daerah maka akan semakin rentan pula penduduknya terkena penyakit DBD atau penyakit akibat vektor nyamuk yang lain.
7. Angka 10 besar kesakitan DBD di Indonesia, serta keterkaitannya dengan perilaku pada masyarakat.
Jawab :
No Provinsi Jumlah
1 Jawa Barat 5292
2 DKI Jakarta 3129
3 Jawa Timur 2486
4 Jawa Tengah 2316
5 Lampung 750
6 Sulawesi Selatan 530
7 Banten 492
8 Bali 400
9 Sumatra Utara 387
10 Kalimantan Timur 357
Berdasarkan data tersebut, kita dapat mearik kesimpulan bahwa DBD terjadi di kota-kota besar dan padat penduduk. Jumlah penduduk yang tinggi akan menyebabkan persebaran penyakit juga tinggi. tingginya kasus DBD karena tingkat prilaku hidup bersih dan sehat serta lingkungan bersih yang masih belum diterapkan dalam masyarakat, meningkatnya mobilitas penduduk karena semakin baiknya sarana transportasi di dalam kota maupun antar daerah, kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari, apalagi penyediaan air bersih belum mencukupi kebutuhan atau sumber yang terbatas atau letaknya jauh dari pemukiman mendorong masyarakat menampung air di rumah masing-masing
8. Dampak batu bara bagi kesehatan
Jawab : Unsur beracun menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, paru- paru dan penyakit kanker otak. Air sungai tempat buangan limbah apabila digunakan masyarakat secara terus menerus, gejala penyakit itu biasa akan tampak setelah bahan beracun terakumulasi dalam tubuh manusia. Sebagaimana halnya polutan (bahan pencemar) konvensional yang keluar dari batubara, polutan radioaktif pun dapat dengan mudah masuk kedalam tubuh manusia melalui udara yang dihirup oleh paru-paru, maupun melalui rantai makanan yang telah terkontaminasi oleh polutan radioaktif. Polutan radioaktif yang terakumulasi didalam tubuh dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama karena sifat polutan radioaktif yang pada umumnya adalah carcinogenik atau perangsang timbulnya kanker.
Dampak langsung batubara terhadap kesehatan yaitu meningkatnya jumlah kasus penyakit pernafasan. PLTU Batubara dengan kapasitas 1.000 MW menimbulkan radiasi ke lingkungan 100 kali lebih besar dibanding energi lainnya. Dampak negatif dari aktifitas pertambangan batu bara bukan hanya menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan melainkan juga berbahaya bagi manusia. Bahaya lainnya adalah air buangan limbah cucian batu bara yang ditampung dalam bak penampung sangat berbahaya karena mengandung logam – logam beracun yang jauh lebih berbahaya dibanding proses pemurnian pertambangan emas yang menggunakan sianida (CN).
9. Mengapa Tumbuhan tingkat tinggi mampu menghasilkan oksigen lebih banyak daripada tumbuhan tingkat rendah?
Jawab : Karena tumbuhan tingkat tinggi mampu melakukan fotosintesis. Fotosintesis berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Sedangkan tumbuhan tingkat rendah tidak bisa melakukan fotosintesis.
10. Apakah ada hubungan pengilangan minyak dengan kejadian kanker?
Jawab :
Ada, karena dalam proses pengilangan minyak melibatkan zat dioksin sehingga zat tersebut memicu terjadinya kanker. Pemaparan secara periodik dengan gas dan minyak dapat menyebabkan kanker. Anak – anak yang tinggal di sekitar kilang lebih mungkin beresiko terkena kanker darah (leukimia) daripada mereka yang tinggal jauh dari fasilitas tersebut. Orang – orang yang tinggal di kawasan pengeboran minyak lebih mungkin beresiko terkena kanker usus, kanker kantong kemih, dan paru – paru daripada mereka yang tinggal jauh dari pengeboran. Para pekerja di kilang – kilang minyak mempunyai resiko tinggi mengidap kanker mulut, usus, ulu hati, pankreas, jaringan sel, prostat, mata, otak, dan darah.